Daffana adalah singkatan nama dari ketiga anak saya yang mungkin akan saya jadikan Brand produk saya suatu hari nanti.
Well... welcome buat anda yang berkunjung ke beranda saya... kita bisa ngobrol banyak disini.. yukkss.
RSS

Pages

Rabu, 07 Juli 2010

Hilangnya Lapangan Kami (Kado Ultah Jakarta)

Sore itu ibu-ibu di sekitar rumah saya ramai berkumpul. Baju olahraga telah mereka kenakan. Ya, sore itu kegiatan para ibu yaitu senam bersama akan di laksanakan. Senam ini diadakan setiap hari rabu dan minggu sore. Saya yang menonton dari pinggir tanah lapang yang kecil itu heran. Kok semua ibu sudah berkumpul tapi senam tak juga di mulai. Mereka malah asyik berkerumun membicarakan sesuatu. Apa mereka sedang membicarakan Ariel dan Luna sampai mengorbankan waktu senam ? heheheheh... ini pemikiran saya saja.

"Ada apa bu, kok nggak dimulai senamnya ?" tanya saya kepada seorang ibu tetangga yang melintas.
"Ini mbak lagi ngomongin lapangan." jawabnya.
"Lho, emang kenapa lapangannya ?" kembali saya bertanya
"Lapangannya mau dibikin kontrakan sama yang punya."
"Haaaa... ?" saya kaget luar biasa.

Lapangan ini tidak luas. Hanya seukuran lebih besar sedikit dari lapangan bulutangkis. Mungkin lebih cocok bila di sebut tanah lapang. Dulunya tanah ini hanya tanah lapang biasa hingga akhirnya si pemilik tanah mengijinkan warga di sekitar itu menggunakannya untuk bermain bulutangkis. Atas dana sumbangan dari warga sekitar dan sedikit bantuan RT maka dibuatlah lapangan bulutangkis permanen. Lantainya di semen, di cat dan di pasangi net bulutangkis.

Bila ada perayaan 17 Agustusan, lapangan itu tak cuma buat pertandingan bulutangkis antar RT, tapi juga perlombaan lain, seperti balap karung, lomba kelereng sampai lomba gambar. Selain itu beberapa kali diadakan nobar di situ. Entah itu nobar sepak bola atau bulutangkis. Bila sedang nobar wah teriakannya terdengar jelas ke rumah saya. Keberadaan lapangan itupun menginspirasi para ibu di sekitar rumah saya untuk mengadakan senam bersama. Dan beberapa kali para ibu mengikuti perlombaan senam atau gerak jalan yang di adakan oleh beberapa sponsor. Sempat menang juga lho. Saya juga ikut, ikut sebagai penonton maksudnya .. hehehe..

Sudah kita ketahui bersama, bahwa Jakarta jadi magnet utama buat orang-orang di desa untuk mengadu nasib. Bisa berhasil, bisa juga jadi lebih parah keadaannya dibandingkan dengan ketika hidup di desa. Dengan banyaknya orang yang selalu datang ke Jakarta, membuat kebutuhan akan tempat tinggal jadi begitu penting. Rumah kontrakan jadi yang paling banyak dicari. Apalagi di daerah tempat tinggal saya yang termasuk daerah strategis.

Jangan kira rumah kontrakan di daerah saya berukuran besar. Rata-rata ukurannya berupa petakan yang hanya terdiri dari 1 kamar, 1 dapur yang campur dengan kamar mandi. Harganya di kisaran 500 ribu hingga 700 ribu per bulan. Mahal menurut saya, tapi banyak yang cari. Mungkin ini yang membuat si pemilik tanah lapang memutuskan untuk menjadikan lapangan itu sebagai rumah kontrakan. Investasi lebih penting dari pada olahraga.

Setelah si pemilik mengganti biaya pembuatan lapangan lalu dimulailah pembangunan rumah kontrakan itu. Minggu lalu ketika saya lewat situ, rumahnya sudah 50 % jadi. 2 rumah kontrakan berdiri di bekas lapangan kami. Kebayang nggak berapa luas rumahnya ? Sedih saya melihatnya. Tentu perasaan saya berbanding terbalik dengan perasaan si pemilik tanah, yang sedang girang karena bulan depan mulai menangguk uang.

Sebenarnya saya berharap kejadian hilangnya lapangan hanya terjadi kali ini, tapi dengan tambah majunya Jakarta, saya kok pesimis bahwa ini tak terulang lagi. Sekali waktu bila sedang iseng, saya mengajak anak saya jalan-jalan mengendarai bebek menyusuri gang di daerah saya. Dan pemandangan "indah" yang saya temui adalah rumah-rumah yang saling berhimpitan, dengan posisi pintu hanya setengah meter dari jalan dan anak anak yang bermain di gang. Namun kondisi ini jauh lebih baik dari pada mereka yang hanya bisa tinggal dalam gubuk di pinggiran kali. Jangankan bicara tentang lingkungan sehat, yang penting malam hari bisa tidur mengistirahatkan badan untuk kembali kerja keras di keesokan hari.

Sementara karena tak ingin kegiatan senam berhenti hanya gara-gara tak ada lapangan, para ibu melakukan senam di dalam gang. Yang luasnya tak lebih dari lebar bodi mobil. Dengan resiko, para ibu harus minggir sejenak bila ada motor yang lewat. Untuk soal ini, saya setuju bila bebek yang lewat di usir dulu. Bebek harus mengalah karena para ibu sedang bersemangat berlatih senam untuk perlombaan dalam rangka Hari Ulang Tahun Jakarta minggu depan. Yah, walaupun lapangannya di gusur, mereka tetap mencintai Jakarta.

Tips Bermotor Ria Dengan Nyaman Dalam Kemacetan

Untuk yang tinggal di Jakarta pasti sudah akrab dengan yang namanya macet. Kemacetan bahkan sudah menghinggapi jalan-jalan alternatif yang justru dipakai untuk menghindari macet. Saya ingin berbagi tips dengan anda yang membelah kemacetan dengan cara bermotor ria agar nyaman menghadapi macet. Dilakukan syukur , tidak dilakukan juga tidak apa apa .. namanya juga berbagi. Berikut tipsnya :

1. Periksa kondisi motor anda sebelum ditunggangi. Ban harus pada tempatnya dan berputar sempurna. Rem harus ada dan pakem kondisinya. Spion serta jok juga ada pada tempatnya. O ya.. pastikan juga mesinnya ada. Serta bensin dalam kondisi cukup. Ini menghindari anda mendorong motor menuju pom bensin di tengah kemacetan karena itu benar-benar bukan suatu kenyamanan. Juga baju lengkap dengan jaket dan kelengkapan safety riding lainnya jangan lupa.

2. Baca do'a sebelum anda menunggangi motor anda. Ini penting agar anda selamat dan tak terjadi apapun selama perjalanan, entah itu kecelakaan atau mungkin tunggangan anda yang tiba tiba demo dan membuat anda celaka.

3. Duduklah pada tempat yang semestinya. Yaitu di jok motor anda, bukan di stang apalagi di ban. Ini penting untuk kenyamanan anda berkendara.

4. Pegang erat erat stang motor anda dan pastikan anda memegang kendali atas tunggangan anda. Atau bebek anda tak membawa anda ke tujuan semula.

5. Ketika sampat di jalan raya dan anda melihat sejauh mata memandang kendaraan antri tak bergerak, jangan panik. Lajukan motor dengan hati-hati. Berjalanlah di barisan kendaraan lainnya dengan tertib. Jika ada yang membunyikan klakson agar anda mempercepat laju motor anda, jangan pedulikan. Karena si pembunyi klakson sedang mencoba klakson barunya.

6. Tetaplah jalan di sebelah kiri, tidak dilarang sekali-kali berada di tengah untuk mencari celah yang bisa dilewati, asal jalannya adalah jalur lambat, bukan jalur cepat apalagi jalur hijau. Kecuali anda mau beramal pada polisi.

7. Bila motor anda benar benar terhenti dan tak bisa lagi bergerak maju, mundur atau belok kanan dan kiri maka jangan memaksakan diri untuk tetap mencari celah. Ini menghindari motor anda agar tidak menyentuh tubuh kendaraan lain dengan tidak sopan. Gunakan kesempatan ini untuk melihat pemandangan di sekeliling anda. Bila sebelah anda taksi, intip argonya. Bersyukurlah biaya perjalanan anda tak semahal taksi yang berjumlah puluhan ribu. Tapi jangan tengok bila sebelah anda adalah truk atau kontainer yang lebih besar dari motor anda. Itu pemandangan mengerikan kalau menurut saya.

8. Bila anda merasa lelah, jangan paksakan diri untuk terus melajukan motor anda. Menepilah sejenak ke tempat yang tidak mengganggu laju motor lainnya. Disarankan tempatnya teduh dengan kerindangan pohon, ada sarana tempat makan, free hot spot, juga ada toilet serta kalau bisa ada Live musicnya. Ini agar kondisi anda bisa segar sempurna.

9. Bila anda sudah sampai di lampu merah biang kemacetan dengan susah payah dan tiba-tiba polisi menghentikan laju kendaraan walau lampu hijau karena ada barisan motor dan mobil pejabat yang lewat, bersabarlah. Karena pejabat itu mungkin harus segera rapat penting untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Bukankah untuk itu mereka dibayar.

10. Kembali lagi ke nomer 1 bila anda belum mengerti.

Sekian dulu tips dari saya ya... semoga selamat sampai tujuan...




Note : di posting di kompasiana 24 Mei 2010

Rabu, 02 Desember 2009

Musim hujan musim lubang

Hujan cukup deras mengguyur Jakarta semalam. Saya pulang berkendara dari kantor
menuju rumah saya di bilangan jerman ( jejeran mampang ). Lepas dari lampu merah
kuningan tiba tiba motor saya oleng kehilangan keseimbangan.
"Astaghfirullah.. !" seru saya.. Hanya kuasa Tuhan dan bekal kursus kilat dari
Jorge Lorenzo di sentul kemarin yang membuat saya tidak jatuh dari motor.
Astaga... ternyata prinsip kehati-hatian saya berkendara tidak membuat saya terhindar
dari lubang. Ngeri membayangkan saya jatuh disitu sementara kendaraan melaju di
belakangnya. Seingat saya jalan ini sudah di ganti beton beberapa bulan yang lalu
tapi kok memasuki musim penghujan sudah banyak lubang lagi yang bertebaran disini.

Saya pernah jatuh dari sepeda motor karena lubang, tapi untungnya kejadian itu pas

lampu merah dimana kendaraan sedang berhenti. Nggak ada yang luka sih... cuman
malunya minta ampun. Lalu pernah ber zig zag ria dan akhirnya jatuh lagi juga
gara gara lubang. Untungnya saya cuma luka ringan. Tapi seorang teman yang
mengalami hal yang sama sempat masuk rumah sakit karena luka yang cukup parah.
Dan semua itu terjadi ketika hujan, dimana lubang tertutup oleh genangan air. Sungguh
saya bukan menyalahkan hujan. Tapi kebanyakan jalan yang bagus mulus memang jadi

berlubang lagi ketika hujan.

Sebagai warga negara yang ikut membayar pajak, membayar listrik dan telepon tepat

waktu, saya pikir bukan hal yang terlalu muluk jika saya mengharapkan jalan mulus
tanpa lubang sehingga meminimalisasi jatuhnya korban kecelakaan. Sepersekian
persen bagian dari pembayaran pajak kita mestinya cukup untuk membangun jalan
menggunakan teknologi yang lebih bagus yang membuat jalan tidak berlubang ketika
hujan. Tetapi karena setiap musim hujan jalan biasa berlubang, maka keinginan saya
sepertinya memang terlalu muluk....

Salam Terlalu

Kamis, 26 November 2009

Welcome .. !

Finally.... bikin blog juga. Sebenernya ini bukan kali pertama saya bikin blog. Dulu punya di www.auliaulhaq.multiply.com, tapi males nerusinnya, soalnya kalo dibuka loadingnya lammaaa bener. Nggak tau tuh salah dimana. Sekarang saya lagi seneng nulis. Apakah ini kesenangan sesaat ? semoga nggak. Apa nanti bosen juga sama blog ini ? semoga juga nggak. Kenapa namanya beranda ? karena beranda tempat favorit saya buat ngobrol or buat leyeh leyeh. Dan Daffana adalah singkatan nama dari ketiga anak saya yang mungkin akan saya jadikan Brand produk saya suatu hari nanti. Well... welcome buat anda yang berkunjung ke beranda saya... kita bisa ngobrol banyak disini.. yukkss