Hujan cukup deras mengguyur Jakarta semalam. Saya pulang berkendara dari kantor
menuju rumah saya di bilangan jerman ( jejeran mampang ). Lepas dari lampu merah
kuningan tiba tiba motor saya oleng kehilangan keseimbangan.
"Astaghfirullah.. !" seru saya.. Hanya kuasa Tuhan dan bekal kursus kilat dari
Jorge Lorenzo di sentul kemarin yang membuat saya tidak jatuh dari motor.
Astaga... ternyata prinsip kehati-hatian saya berkendara tidak membuat saya terhindar
dari lubang. Ngeri membayangkan saya jatuh disitu sementara kendaraan melaju di
belakangnya. Seingat saya jalan ini sudah di ganti beton beberapa bulan yang lalu
tapi kok memasuki musim penghujan sudah banyak lubang lagi yang bertebaran disini.
Saya pernah jatuh dari sepeda motor karena lubang, tapi untungnya kejadian itu pas
lampu merah dimana kendaraan sedang berhenti. Nggak ada yang luka sih... cuman
malunya minta ampun. Lalu pernah ber zig zag ria dan akhirnya jatuh lagi juga
gara gara lubang. Untungnya saya cuma luka ringan. Tapi seorang teman yang
mengalami hal yang sama sempat masuk rumah sakit karena luka yang cukup parah.
Dan semua itu terjadi ketika hujan, dimana lubang tertutup oleh genangan air. Sungguh
saya bukan menyalahkan hujan. Tapi kebanyakan jalan yang bagus mulus memang jadi
berlubang lagi ketika hujan.
Sebagai warga negara yang ikut membayar pajak, membayar listrik dan telepon tepat
waktu, saya pikir bukan hal yang terlalu muluk jika saya mengharapkan jalan mulus
tanpa lubang sehingga meminimalisasi jatuhnya korban kecelakaan. Sepersekian
persen bagian dari pembayaran pajak kita mestinya cukup untuk membangun jalan
menggunakan teknologi yang lebih bagus yang membuat jalan tidak berlubang ketika
hujan. Tetapi karena setiap musim hujan jalan biasa berlubang, maka keinginan saya
sepertinya memang terlalu muluk....
Salam Terlalu
Rabu, 02 Desember 2009
Musim hujan musim lubang
Langganan:
Postingan (Atom)