Sore itu ibu-ibu di sekitar rumah saya ramai berkumpul. Baju olahraga telah mereka kenakan. Ya, sore itu kegiatan para ibu yaitu senam bersama akan di laksanakan. Senam ini diadakan setiap hari rabu dan minggu sore. Saya yang menonton dari pinggir tanah lapang yang kecil itu heran. Kok semua ibu sudah berkumpul tapi senam tak juga di mulai. Mereka malah asyik berkerumun membicarakan sesuatu. Apa mereka sedang membicarakan Ariel dan Luna sampai mengorbankan waktu senam ? heheheheh... ini pemikiran saya saja.
"Ada apa bu, kok nggak dimulai senamnya ?" tanya saya kepada seorang ibu tetangga yang melintas.
"Ini mbak lagi ngomongin lapangan." jawabnya.
"Lho, emang kenapa lapangannya ?" kembali saya bertanya
"Lapangannya mau dibikin kontrakan sama yang punya."
"Haaaa... ?" saya kaget luar biasa.
Lapangan ini tidak luas. Hanya seukuran lebih besar sedikit dari lapangan bulutangkis. Mungkin lebih cocok bila di sebut tanah lapang. Dulunya tanah ini hanya tanah lapang biasa hingga akhirnya si pemilik tanah mengijinkan warga di sekitar itu menggunakannya untuk bermain bulutangkis. Atas dana sumbangan dari warga sekitar dan sedikit bantuan RT maka dibuatlah lapangan bulutangkis permanen. Lantainya di semen, di cat dan di pasangi net bulutangkis.
Bila ada perayaan 17 Agustusan, lapangan itu tak cuma buat pertandingan bulutangkis antar RT, tapi juga perlombaan lain, seperti balap karung, lomba kelereng sampai lomba gambar. Selain itu beberapa kali diadakan nobar di situ. Entah itu nobar sepak bola atau bulutangkis. Bila sedang nobar wah teriakannya terdengar jelas ke rumah saya. Keberadaan lapangan itupun menginspirasi para ibu di sekitar rumah saya untuk mengadakan senam bersama. Dan beberapa kali para ibu mengikuti perlombaan senam atau gerak jalan yang di adakan oleh beberapa sponsor. Sempat menang juga lho. Saya juga ikut, ikut sebagai penonton maksudnya .. hehehe..
Sudah kita ketahui bersama, bahwa Jakarta jadi magnet utama buat orang-orang di desa untuk mengadu nasib. Bisa berhasil, bisa juga jadi lebih parah keadaannya dibandingkan dengan ketika hidup di desa. Dengan banyaknya orang yang selalu datang ke Jakarta, membuat kebutuhan akan tempat tinggal jadi begitu penting. Rumah kontrakan jadi yang paling banyak dicari. Apalagi di daerah tempat tinggal saya yang termasuk daerah strategis.
Jangan kira rumah kontrakan di daerah saya berukuran besar. Rata-rata ukurannya berupa petakan yang hanya terdiri dari 1 kamar, 1 dapur yang campur dengan kamar mandi. Harganya di kisaran 500 ribu hingga 700 ribu per bulan. Mahal menurut saya, tapi banyak yang cari. Mungkin ini yang membuat si pemilik tanah lapang memutuskan untuk menjadikan lapangan itu sebagai rumah kontrakan. Investasi lebih penting dari pada olahraga.
Setelah si pemilik mengganti biaya pembuatan lapangan lalu dimulailah pembangunan rumah kontrakan itu. Minggu lalu ketika saya lewat situ, rumahnya sudah 50 % jadi. 2 rumah kontrakan berdiri di bekas lapangan kami. Kebayang nggak berapa luas rumahnya ? Sedih saya melihatnya. Tentu perasaan saya berbanding terbalik dengan perasaan si pemilik tanah, yang sedang girang karena bulan depan mulai menangguk uang.
Sebenarnya saya berharap kejadian hilangnya lapangan hanya terjadi kali ini, tapi dengan tambah majunya Jakarta, saya kok pesimis bahwa ini tak terulang lagi. Sekali waktu bila sedang iseng, saya mengajak anak saya jalan-jalan mengendarai bebek menyusuri gang di daerah saya. Dan pemandangan "indah" yang saya temui adalah rumah-rumah yang saling berhimpitan, dengan posisi pintu hanya setengah meter dari jalan dan anak anak yang bermain di gang. Namun kondisi ini jauh lebih baik dari pada mereka yang hanya bisa tinggal dalam gubuk di pinggiran kali. Jangankan bicara tentang lingkungan sehat, yang penting malam hari bisa tidur mengistirahatkan badan untuk kembali kerja keras di keesokan hari.
Sementara karena tak ingin kegiatan senam berhenti hanya gara-gara tak ada lapangan, para ibu melakukan senam di dalam gang. Yang luasnya tak lebih dari lebar bodi mobil. Dengan resiko, para ibu harus minggir sejenak bila ada motor yang lewat. Untuk soal ini, saya setuju bila bebek yang lewat di usir dulu. Bebek harus mengalah karena para ibu sedang bersemangat berlatih senam untuk perlombaan dalam rangka Hari Ulang Tahun Jakarta minggu depan. Yah, walaupun lapangannya di gusur, mereka tetap mencintai Jakarta.
Rabu, 07 Juli 2010
Hilangnya Lapangan Kami (Kado Ultah Jakarta)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar